03042015Headline:
Lapak Instan

Aneka Tawaran Bisnis Soto

Soto termasuk makanan yang merakyat dan tak mengenal kasta. Penggemarnya datang dari berbagai kalangan. Maklum, bukan hanya harganya yang bersahabat, menyantap soto pun nikmat.

Berbisnis soto agaknya juga senikmat rasanya. Itu sebabnya, penjual soto dengan mudah bisa kita temui. Malah, tak sedikit dari mereka yang mengembangkan usaha dengan menawarkan kemitraan atau waralaba.

Dalam review kali ini, KONTAN mengupas perkembangan usaha beberapa kemitraan soto, seperti Soto Ayam Jolali, Soto Kudus Kauman, dan Soto Semarang Songo-Songo. KONTAN pernah mengulas tawaran usaha mereka di tahun lalu.

Nah, dari tiga pemain bisnis soto itu, ada yang kini semakin berkembang, tapi ada pula yang stagnan dan belum berhasil menjaring mitra sama sekali. Seperti apa persisnya perkembangan usaha mereka, berikut ulasannya:

Soto Ayam Jolali

Tawaran kemitraan yang satu ini mengusung menu soto ayam kampung khas Surabaya. Sang pemilik, Hendro Dwi Sriyantono memulai usaha soto tahun 2006 di Surabaya, Jawa Timur.

Pada Maret 2008 Hendro pun mulai menawarkan kemitraan. Saat diulas KONTAN pada April 2011 lalu, Soto Ayam Jolali telah memiliki 25 mitra yang tersebar di Surabaya, Jakarta, Pekanbaru, dan Samarinda.

Setahun berselang, jumlah mitranya kini sudah ada 30 mitra. “Mitra kami tetap masih banyak di Jawa. Namun kini ada tambahan di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi,” ujar Hendro.

Ia mencontohkan kini gerainya sudah ada di Duri dan Manado. Hendro mengaku, tidak memiliki trik khusus agar mitranya bisa tetap bertumbuh. Sebagai soto khas Surabaya, ia mengklaim, kekuatan sotonya ada pada rasa.

Meski mitranya tersebar di berbagai daerah, Hendro selalu mempertahankan agar citarasa kuah pada setiap sajian soto di gerai-gerai mitra tetap sama. Untuk itu, mitra wajib membeli koya dan bumbu soto dari pusat. Sementara bahan baku lain boleh dibeli di daerah masing-masing.

Dari segi menu, Hendro mengaku belum ada varian baru. Pilihan menunya ada soto ayam campur, soto ayam jeroan, dan soto ayam kulit.

Hanya, harga jual ke konsumen mengalami kenaikan. Bila sebelumnya dijual di kisaran Rp 5.000-Rp 7.500 per porsi, kini naik menjadi Rp 8.000-Rp 12.000 per porsi.

Selain harga menu, tak ada yang berubah dari tawaran Soto Ayam Jolali. Nilai paket investasinya masih sama. Pertama, paket senilai Rp 20 juta. Dalam paket ini, mitra mendapatkan perlengkapan, seperti gerobak, tenda ukuran 3 meter (m) x 3 m, meja, dan kursi sebanyak empat set, mangkuk soto, perlengkapan memasak, dan bahan baku.

Kedua, paket Rp 30 juta. Mitra mendapatkan peralatan yang sama dengan jumlah lebih banyak. Dalam kemitraan ini, Soto Jolali juga memberikan pelatihan standar bagi mitra. Di antaranya pelatihan meracik soto, menyajikan, melayani konsumen, hingga pemasaran.

Biaya setiap paket sudah termasuk franchise fee dan pembinaan selama enam tahun. Namun, mitra akan dikenakan royalty fee sebesar 3,5% dari omzet bulanan.

Hendro mengklaim, sebagian besar mitranya sudah balik modal saat ini. “Rata-rata balik modal dalam waktu enam bulan,” ujar Hendro.

Ia memang menargetkan mitranya balik modal dalam rentang waktu tersebut. Target omzetnya sebesar Rp 18 juta per bulan, dengan laba bersih 20%.

Hendro optimistis usaha sotonya ini masih akan berkembang. Ia menargetkan, bisa memperoleh paling tidak 10 mitra baru hingga akhir tahun ini.

Soto Kudus Kauman

Mengusung cita rasa soto asal Kudus yang banyak digandrungi masyara