09302014Headline:
Lapak Instan

Dari Cangkang Telur, Jadi Karya Seni Kaligrafi

Selama ini, telur sudah menjadi makanan sehari-hari manusia. Tingginya konsumsi telur itu menghasilkan limbah berupa kulit atau cangkang yang belum banyak dimanfaatkan orang.

Melihat besarnya limbah cangkang telur itu, Cahyudi Susanto tertarik untuk memanfaatkannya. Di bawah bendera usaha Egg Art, ayah tiga anak ini menggeluti usaha kerajinan kaligrafi dari kulit telur sejak tahun 2009.

Dengan menggunakan cangkang telur, ia membuat beragam lukisan kaligrafi. Selain kaligrafi, ia juga memproduksi lukisan wajah tokoh-tokoh tertentu.” Saya juga menerima pesanan,” kata Cahyudi yang bermukim di wilayah Jakarta Timur ini.

Dari hasil kerajinan berbahan cangkang telur ini, ia mengantongi omzet minimal Rp 20 juta per bulan. Harga lukisan kaligrafinya bervariasi, mulai Rp 500.000-Rp 600.000 per buah. Dalam sebulan ia bisa membuat empat lukisan kaligrafi.

Sementara banderol lukisan wajah Rp 5 juta-Rp 45 juta. Ia mengaku, pernah membuat lukisan Soeharto dan Siti Hardiyanti Rukmana. Kedua lukisan itu telah diboyong ke Cendana dengan harga Rp 45 juta per buah. Cahyudi juga pernah membuat lukisan Prabowo dan dibeli oleh seorang kolektor dengan harga Rp 15 juta.

Ide usaha ini datang setelah Cahyudi melihat banyak limbah kulit telur yang terbuang sia-sia di lingkungan sekitarnya. Kebetulan, ada salah seorang tetangganya menekuni usaha pembuatan roti yang banyak menggunakan telur ayam.

Belum lagi banyak tukang nasi goreng dan martabak yang mangkal tak jauh dari rumahnya. “Saya perhatikan limbahnya terbuang begitu saja,” ujar Cahyudi.

Dari situlah ia terdorong untuk memanfaatkannya. Awal menekuni usaha pembuatan kaligrafi berbahan cangkang telur itu tidak langsung jadi. Ia perlu mencoba berbagai metode sehingga hasilnya bisa pas.

Diakuinya, membuat lukisan dari cangkang telur tidak mudah. Butuh jiwa seni dan kesabaran tinggi. “Prosesnya panjang,” katanya. Tahap awal cangkang dibersihkan satu per satu.

Setelah itu dijemur sampai kering. Tahap berikutnya adalah memilah warna. Setelah seluruh telur terpisahkan berdasarkan warna, baru dibuat latar gambar dan lukisan di tripleks.

Tripleks yang berfungsi sebagai background ini kemudian dicat. Namun, hanya bagian background yang boleh dicat, sementara seluruh bagian lukisan menggunakan kulit telur.

Sukses menekuni usaha ini juga dirasakan Hendra Setiawan dari Martapura, Kalimantan Selatan. Sama halnya Cahyudi, ia juga memanfaatkan kulit telur untuk membuat kaligrafi.

Saat ini, hasil karyanya masih dipasarkan di sekitar Kalimantan. Kaligrafi buatannya dijual mulai Rp 200.000-Rp 400.000 per buah.

Dalam sebulan ia mampu membuat empat kaligrafi dari cangkang telur. Omzetnya mencapai jutaan rupiah.

What Next?

Recent Articles

Leave a Reply

Submit Comment