10302014Headline:
Lapak Instan

Usaha Bimbel Masih Menggiurkan

Prospek bisnis di dunia pendidikan sepertinya masih cerah. Namun, bisnis ini harus disertai dengan kreativitas dan kualitas pengelolaannya. Berikut ini ulasan tiga bimbel yang bergerak di bisnis ini. Dari tiga pemain tersebut, dua bimbel mengalami pertumbuhan mitra dan kemajuan usaha.

Bimbel GalanUI

Waralaba Bimbel GalanUI sudah berdiri sejak Agustus 2008. Kemudian baru pada Juni 2010, GalanUI mulai membuka tawaran kemitraan Bimbel GalanUI.

Berdasarkan catatan KONTAN, sampai Januari 2011, GalanUI telah memiliki empat mitra. Setelah setahun lebih berselang, GalanUI mengalami perkembangan.

Menurut pendiri GalanUI, Ikhsan Muttaqin, saat ini bimbel yang dikelolanya ini sudah memiliki sembilan mitra yang tersebar di daerah Pasar Rebo, Pekayon, Cibubur, Matraman, dan Depok. Sementara pada bulan Juni mendatang,

GalanUI akan memiliki sebanyak 12 mitra. “Kami targetkan tahun ini mitra bisa bertambah sebanyak tiga hingga empat mitra,” jelasnya.

Karena mengalami kemajuan dan minat dari masyarakat, saat ini GalanUI juga meningkatkan biaya bimbel. Jika sebelumnya, GalanUI mematok biaya kursus sebesar Rp 135.000 per siswa dalam sebulan, maka saat ini meningkat menjadi Rp 150.000 per bulan untuk siswa SD, dan Rp 160.000 per bulan untuk siswa SMP. Untuk menarik perhatian siswa, GalanUI membatasi jumlah siswa maksimal 10 orang per kelas.

GalanUI juga menaikkan biaya investasi awal. Jika sebelumnya sebesar Rp 25 juta, saat ini menjadi Rp 40 juta. Adapun untuk royalty fee, GalanUI memberikan kelonggaran selama enam bulan pertama mitra tidak usah membayar royalti. Namun pada bulan ketujuh harus membayar biaya royalti sebesar 10% dari omzet per bulan.

Ikhsan optimistis bisnis bimbel miliknya terus mengalami kemajuan. Soalnya, GalanUI ketat dalam mencari calon pengajar, tujuannya supaya kualitas pelajaran tetap terjaga.

Guna meningkatkan jumlah mitra dan lebih dikenal masyarakat, GalanUI rajin mengikuti pameran. Ikhsan bilang, tiap tahun pihaknya selalu mengikuti pameran dari Wirausaha Muda Mandiri. “Selain itu, kami juga aktif di komunitas-komunitas,” ujarnya.

Bimbel Salemba

Bimbel Salemba berdiri sejak tahun 2003. Bimbel yang berbasis di Bintaro, Tangerang Selatan itu, telah memiliki 40 mitra. Mitra Bimbel Salemba tersebar di daerah Jabodetabek, Padang, Medan, Lampung hingga Semarang.

Jumlah mitra Bimbel Salemba ini lumayan meningkat pesat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, saat diulas KONTAN pada 2010, Bimbel Salemba baru memiliki sekitar 10 mitra. Salah satu daya tarik bimbel ini ialah karena membidik segmen khusus yakni pelajar SMA atau yang ingin sukses mengikuti seleksi masuk Universitas Indonesia. “Tapi, kami tetap menyediakan paket bimbel tingkat SD dan SMP. Hanya saja, kami mengutamakan untuk yang SMA atau baru lulus SMA untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi,” ujar Kaeran, Manager Pengembangan dan Bisnis Bimbel Salemba.

Secara umum jumlah siswa di tiap cabang Bimbel Salemba berkisar antara 50 orang hingga 150 orang, dengan tarif paket bimbel antara Rp 4 juta hingga Rp 7 juta per siswa. Alhasil omzet setiap tahun ajarannya bisa mencapai Rp 200 juta – Rp 600 juta.

Adapun laba bersih bisa mencapai 35% dari total omzet. Dengan demikian setiap mitra diperkirakan bisa balik modal antara 1 – 2 tahun.

Adapun paket investasi yang ditawarkan Bimbel Salemba semakin mahal. Bila dulu investasi untuk biaya lisensi yang dikutip sekitar Rp 25 juta, kini ada dua paket investasi yang tawarkan. Pertama, individual lisensi senilai Rp 33 juta. Kedua, master lisensi seharga Rp 60 juta. Keduanya untuk kerja sama selama lima tahun.

Kedua paket ini mendapatkan layanan yang sama, mulai dari pelatihan sumber daya manusia dan promosi. Namun, untuk individual lisensi hanya membolehkan investor membuka satu gerai saja. Sedangkan master lisensi memungkinkan investor membuka sejumlah gerai termasuk bekerja sama dengan pihak ketiga untuk membuka gerai lain di satu kota.

Kaeran menambahkan, prospek bisnisnya ini masih terbilang bagus dan tetap diminati sejumlah investor. Namun, investor memang perlu menyiapkan lokasi yang sangat strategis, terutama yang dekat dengan sekolah sekaligus perumahan. “Sekitar minggu kemarin ya baru pembukaan mitra yang di Aceh dan Bali,” tandasnya.

Tiara Bimbel

Kalau Bimbel Salemba dan GalanUI yang berbasis di Jakarta bisa tumbuh pesat, Tiara Bimbel, asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tidak demikian. Tiara Bimbel justru tidak bisa berkembang.

KONTAN pernah mengulas bisnis ini pada April 2011 silam. Pada saat itu, bimbel yang didirikan pada tahun 2004 ini memiliki tujuh cabang, dua di antaranya milik mitra dan lima yang lain merupakan milik sendiri.

Setelah setahun berselang, bisnis Tiara Bimbel tidak mengalami kemajuan. Bimbel yang mulai menawarkan kemitraan pada tahun 2010 ini tidak kunjung bertambah mitranya. Pemilik Tiara Bimbel, Rusydi mengatakan, bimbel miliknya tersebut memang tidak mengalami perkembangan signifikan sejak 2011. “Jadi kami sekarang sedang konsolidasi internal,” jelasnya.

Ia bilang, sebagian besar calon mitra tidak begitu berminat dengan tawaran kemitraan dari Tiara Bimbel. Padahal sebelumnya sudah ada calon mitra dari Batam dan Jakarta, namun, karena tidak cocok tempat, akhirnya mereka mengurungkan niat mereka untuk bermitra.

Tiara Bimbel fokus pada bimbingan anak TK dan SD. Tiara Bimbel memberikan materi pelajaran seperti baca tulis, berhitung, sempoa, IPA, IPS, matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tiara Bimbel memungut biaya pendaftaran dari siswa sebesar Rp 300.000 dan biaya kursus Rp 300.000 sampai Rp 400.000 per siswa, untuk delapan kali pertemuan dalam sebulan.

Tiara Bimbel menawarkan tiga paket waralaba. Paket A dengan investasi Rp 25 juta dan biaya royalti 8,9% dari omzet per bulan. Paket B bernilai investasi Rp 22,5 juta dengan biaya royalti 19,8%. Paket C Rp 20 juta dengan biaya royalti 40% sebulan.

Dengan investasi awal hanya Rp 25 juta, terwaralaba mendapatkan perlengkapan senilai Rp 7 juta, renovasi Rp 5 juta, dan biaya survei untuk wilayah Jakarta Rp 3 juta. Di luar itu, terwaralaba harus membeli modul, lembar kerja anak, baju, dan tas.

Tiara Bimbel meminta para terwaralaba memilih lokasi di pinggir jalan yang mudah dijangkau. Tempat tersebut bisa berbentuk rumah atau ruko dengan ukuran 70 meter persegi. Lokasi Bimbel pun sebaiknya memiliki halaman luas sebagai tempat parkir serta arena bermain.

Nah, apakah Anda masih tertarik menjajal bisnis bimbingan belajar? [sumber: kontan.co.id]

What Next?

Recent Articles

Leave a Reply

Submit Comment